Anonymus Tipper
Unity in Diversity

tanggal 15 bulan 2 tahun 1

Hari dimana kami berjanji untuk berkumpul. Ya, kami, saya dan teman-teman sesumpah PNS saya… he he he bersumpah bersama demi bangsa dan negara, jadi inget novel SAM KOK dimana Liu Bei, Guan Yu dan Zhang Fei, tiga jenderal ternama di kisah dimaksud, bersumpah bersaudara mewujudkan kedamaian di China.

Baru dua hari sejak acara (yang seharusnya) penting tersebut, nampaknya beberapa dari kami sudah kembali kebusiness as usual,sumpah kek,bukan sumpah kek, bukan urusan. benar memang, efeknya ke beberapa orang apabila kurang diintegralkan, akan seperti itu. sumpah saya bersama teman seangkatan waktu kuliah saja lebih kuat daripada ini efeknya.

Ada banyak sekali yang berkumpul saat itu, kami karaokean, makan malam, dan diakhiri dengan ngopi-ngopi cantik di suatu gerai di malam itu. saking banyaknya kami, seolah-olah gerai tersebut kami kuasai. Yah, jadi inget masa-masa masih sekolah dahulu.

Anyway, kami hanya menghabiskan sesaat untuk membicarakan soal sumpah kemarin. Nampaknya topik soal sumpah sudah tidak seseksi itu lagi. Namun sayapun tidak ingin terlalu berpanjang lebar membicarakan sumpah. Yang terpenting adalah aksi riil.. Itu yang agak susah diwujudkan.

Uniknya meskipun jumlah kami cukup banyak, namun pembicaraan berjalan dengan mengalir, tidak ada yang mendominasi pembicaraan, semua mendapat kesempatan yang sama dalam berbicara dan menuangkan gagasan-gagasan yang kaya, yang belum tentu dapat dituangkan di kalangan masyarakat pada umumnya. Menarik. Diawali dengan sumpah, tupoksi masing-masing, lingkungan kerja, dan ujung-ujungnya ke idiologi.

Ideologi berseliweran diantara kami. ada yang setuju demokrasi, ada yang komunis, ada yang khilafah. Ada yang mengamini PJ-palsu atas nama kinerja, ada yang mengharamkan seharam-haramnya. Ada yang menyetujui pengadaan terpusat dengan ULP dan LPSE, ada yang tidak. wah bermacam-macam idenya. Kaya! Kami kaya! tentu saja kekayaan ini harus di manage dengan baik.

Ngomong-ngomong soal kekayaan, nampaknya kekayaan ini sebenarnya ada disini, di Indonesia, tidak hanya ada di meja di sebuah gerai kopi di malam itu. Kami mungkin bisa dibilang merepresentasikan gagasan sebagian besar lain manusia di Indonesia ini, dari berbagai lapisan. Bagaimana yah cara mengelola kekayaan ini? ini baru dari segi idiologi. Selagi saya berpikir kesana kemari, tiba-tiba teman sayanyeletuk.

ya udah sih, kalo beginian mah diomong terus ngga akan ada abisnya. Elu sama prinsip lu, gue sama prinsip gue. yang penting adalah apa yang kita junjung tinggi. kita semua punya boss, kita semua punya koordinator. Kita ikutin mau dia, dengan tetap menghormati dan menghargai kepentingan kalian. Yang terpenting adalah, kita semua menyepakati sebuah kepentingan bersama. Itu yang namanya kepentingan nasional. Perbedaan kita marilah kita gunakan untuk saling mengisi. Ini bagus kok. Mari senantiasa berdoa, bekerja dan terus mengingatkan pimpinan kita untuk membela kepentingan nasional tersebut. Yah minimal,kita tetap bertahan pada keyakinan akan kepentingan nasional, sampai kitalah yang jadi koordinator tersebut. Sepakat friends?

dan kita semua bersepakat. Tidak ada yang kaget dengan kata-kata teman kami itu. Kami semua amat paham dan kata-kata seperti itu bukanlah,bagi kami, sesuatu yang sungguh luar biasa. kamipun bisa menelurkan kata-kata seperti itu. Namun tidak perlu ada pahlawan di benak kami, tidak perlu ada jaagoan yang tampil didepan. siapapun,sama saja. SIapapun yang terdengar pintar, yang penting adalah terakomodirnya kepentingan nasional. Terlalu banyak perbedaan. ada yang suka suharto,ada yang suka otonomi,ada yang suka gus dur, ada yang suka SBY. Namun faktanya satu: kami bekerja bersama-sama. tidak ada gunanya terus diributkan.

Mudah mungkin, karena kami kelompok kecil. Bagaimana dengan kalian, teman-teman? kepentingan nasional kadang mengetes kepentingan pribadi kita loh. Bahkan kamipun yang berbincang seperti itu, belum tentu sanggup bertahan.

Melihat Indonesia yang carut marut politiknya ini, mungkin sudah saatnya kita bertanya: apakah kepentingan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Saya juga tidak tau. Tapi ketahuilah satu hal: Menurut prinsip Balance Score Card, gear yang kecil-kecil apabila dapat berputar sesuai tugasnya masing-masing, akan menggerakkan sebuah mesin yang besar.

The Oath…

tanggal 13 bulan 2 tahun 1

setahun sudah saya berkarir sebagai CPNS,saatnya membuang hurup “C” nya dong! Tentunya ini menjadi sebuah kesenangan sendiri, kegembiraan. meski yah pada dasarnya tidak banyak yang berubah selain 20% gaji itu. meski ketika saya masih ber-C ada beberapa lah diskriminasi soal pendapatan, tapi saya rasa itu cukup adil kok. tapi apapun itu, jadi PNS tentu lebih seru daripada CPNS. sebuah achievement, sebuah dinamisasi.

Upacara sumpah PNS pun digelar. saya berjumpa dengan berbagai kawan-kawan saya di instansi saya. Yah kami seangkatan semua memang, namun banyak dari mereka yang saya belum kenal. Kesempatan yang baik, pikirku. Akupun mencoba berkenalan dengan mereka, tentunya dengan tetap menggandeng teman-teman yang sudah lebih dulu saya kenali. Sebagai seorang PNS yang percaya bahwa koordinasi itu mahal, ini merupakan kesempatan yang tak ternilai harganya.

Hanya sempat sebentar bercakap-cakap, upacara ternyata sudah akan digelar. On-time juga upacaranya ternyata. Pemandangan yang cukup menarik melihat didatangkannya pemuka-pemuka berbagai agama. Ketika itu saya hanya melihat tiga pemuka agama yaitu islam,kristen dan hindu. Nampaknya sumpah ini akan berbau religi, dimana kita bersumpah atas nama Tuhan yang kita percaya, yang mana tiada auditor lain yang bisa lebih hebat daripada Beliau. Kami dibariskan berdasarkan agama masing-masing, dan upacarapun dimulai. Cukup sederhana, pemuka agama mengambil sebuah ayat dari buku suci masing-masing untuk kami ulangi, dan mengucapkan Sumpah PNS. Sumpah PNS ini kira-kira berbunyi:

Demi Allah, saya bersumpah/berjanji;

Bahwa saya, untuk diangkat menjadi PNS, akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah;

Bahwa saya, akan mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggungjawab;

Bahwa saya, akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara, Pemerintah, dan martabat Pegawai Negeri, serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri, seorang atau golongan;

Bahwa saya, akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan;

Bahwa saya, akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan Negara.


wow! ternyata mengerikan juga sumpah PNS ini, tentu dengan asumsi kita benar-benar akan mempertanggung jawabkan perbuatan kita. berat sekali tugas yang diemban seorang punggawa negara, syarat-syarat yang cukup berat, dengan balasan dan infrastruktur organisasi yang begitu buruk. Selama ini nampaknya pekerjaan di kantor tampak seperti main-main saja, namun ya seperti yang pernah saya bahas di tulisan sebelum ini, “permainan” itu bisa memberi dampak yang luar biasa besar. sebuah garis atau kesalahan ketik dalam draft RUU bisa berakibat luar biasa. Melihat impact yang begitu besar, sudah sewajarnya lah sumpah PNS terdengar begitu menuntut. Ya Tuhan ampunilah dosa kami Para PNS…

Selepas acara, ternyata kawan-kawan saya, yang seperti juga saya sendiri, memiliki kesibukan yang cukup. maklum acara diadakan ketika uang sudah cair dan harus segera dipertanggung jawabkan (tentunya ini sebenarnya lebih dari sekedar masalah pertanggung jawaban keuangan, tapi yasudah lah) dan kami semua harus segera kembali ke meja masing-masing untuk bekerja. Namun karena saya amat ingin memanfaatkan situasi euforia ini dimana kita berkumpul secara massif, saya menawarkan teman-teman untukhang outsuatu hari. Ternyata sebagian besar setuju untuknongkrongdi Jumat malam. Kesempatan yang baik.

Ingatkan anda semua ketika disumpah PNS? Menarik ternyata, teman-teman saya ada yanglip sync,ada yang diam saja, ada yang berucap namun tidak mau ambil pusing, namun tidak sedikit juga yang benar-benar meresapi, meskipun saya sendiri tidak tau untuk berapa lama. Saya sendiri? bagi saya itu hanyalah sebuah seremoni. Ada maupun tidak ada, tidak akan memberi banyak dampak kepada saya. Namun demikian upacara seperti ini sebenarnya sangat berguna, asalkan memanfaatkan momentum secara berantai sejak dari CPNS dulu. Ini kembali ke sistem pengelolaan Sumber Daya Manusia PNS yang belum begitu baik, belum komprehensif dan terintegrasi dengan baik di seluruh Indonesia.

Tapi mari kita tinggalkan itu. Tulisan ini bukan untuk mengulang akan kelemahan-kelemahan PNS yang telah saya bahas sebelum ini. Hanya sekedar remainder, karena sumpah PNS ini ternyata memiliki bunyi yang mungkin sangat jauh dari cita-cita dan harapan kita semua ketika pertama kali melamar jadi PNS.

so,bagaimana makna sumpah PNS bagimu?

Sometimes, looking back is a better way to move forward

tanggal 15 bulan 9 tahun 0, akhir tahun telah terjadi.. Akhirnya setelah sekian banyak waktu saya habiskan untuk belajar dan bekerja, agak sedikit lowong juga. di kalender fiskal pemerintah Indonesia, hari ini adalah akhir tahun. Teman-teman pada sibuk mempertanggung jawabkan penggunaan uang negara dan membuat laporan-laporan akhir tahun. Laporan saya sendiri sudah saya selesaikan paling lambat seminggu setelah akhir kegiatan. Sekarang saya memiliki sedikit waktu untuk refleksi..

Awal pekerjaan, saya dikenalkan oleh seorang atasan, beliau adalah orang yang mengetahui persis apa yang harus dilakukan. Hanya saja pandangannya seringkali bias dan kurang aplikatif. Atasan saya ini, seorang eselon IV, sering menjadi tangan kanan atasan, karena itulah amat memahami apa keinginan pimpinan. Dia adalah orang yang memiliki ide yang mudah dicerna dan dikonsepkan. Saya membantunya mengelola itu menjadi sebuah kegiatan yang riil. Awalnya sayapun jungkir balik, namun otak ini tidak pernah mengenal kata terlalu tua untuk belajar. Percayalah

Laporan saya selesai dalam seminggu, itu bukannya mau sok, hanya saja, sebuah laporan akan dapat dikerjakan dengan amat mudah apabila perencanaannya sudah baik, dilakukan dengan cermat dan segala revisi aksi dicatat. Saya yakin, teman-teman sudah ahli dalam hal ini. Bagaimana melatih diri berpikir sistematis menuju “menganalisis Hal-hal yang dibutuhkan oleh instansi berbasis tupoksi dan keinginan pimpinan” sudah pernah saya bahas di post sebelum ini.

saya menyisakan sedikit waktu untuk refleksi, tidak bekerja, tidak pula belajar. Refleksi pribadi. Hanya dua hal saja yang saya evaluasi: membandingkan diri saya satu tahun yang lalu dengan saat ini, dan membandingkan instansi saya satu tahun yang lalu dengan saat ini.

Saya masuk PNS adalah dorongan orang tua. Tidak ada pikiran untuk membangun negeri, dulu saya adalah si bodoh yang hanya memikirkan diri sendiri dan diri sendiri saja. Saat ini, saya memahami masalah yang dialami oleh instansi pemerintahan (mungkin juga politik). Bagi saya, saat ini permasalahan organisasi di pemerintahan ini adalah masalah yang memiliki pareto tertinggi dibanding lainnya. Sayang, memperbaikinya amat rumit, perlu diparetokan lagi hal-hal apa saja yang akan memberikan efek terhadap perbaikan.

Di PNS, saya belajar mengenai organisasi. Ketika saya diberi tugas menata kegiatan, saya belajar banyak mengenai efisiensi dan efektivitas, juga mengenai tatanan organisasi yang produktif dan dapat diandalkan pengguna. Saya mengenal berbagai macam tools mengenai manajemen organisasi seperti ISO, BSC, dan sebagainya. Tepat sekali, google adalah suatu evolusi yang luar biasa dalam pembelajaran. Tipis sekali alibi untuk tidak belajar dewasa ini.

Saya mulai mengenal sistem pengelolaan administrasi pemerintah, bahwa kita tidak bisa dengan mudah mengandalkan orang lain. Keras pada diri sendiri adalah cara yang harus ditempuh. Ketika mengalami masalah gaji, kepegawaian, atau administrasi lainnya, saya kadang harus mencari tau sendiri dasar hukum dan peraturan yang dapat jadi pegangan.

Hanya saja, rupanya apa yang saya kerjakan diinstansi saya belum memberi dampak yang signifikan. Pegawai-pegawainya banyak yang kurang produktif, begitupun banyak pekerjaan yang masih berseliweran tidak jelas tujuannya kemana. Pimpinan masih minta hal-hal yang aneh-aneh dan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, serta tidak mampu mendudukkan prioritas dengan lebih logis, jernih dan berdasar.

Mungkin apa yang bisa saya dapat adalah, instansi saya memiliki lebih banyak orang yang kompeten, berawal hanya dari kepedulian mereka meningkatkan kompetensi diri, dapat diolah menuju apa yang dibutuhkan instansi. Saat ini instansi saya memiliki setidaknya satu garis dalam satu bagiannya, yang menyambung.

Selain itu, hanya dari secuil ide dari orang seperti saya, seorang staf rendahan, terkadang impactnya bisa lumayan ketika hal itu maju terus ke pimpinan, termasuk dalam hal pembuatan Permen,SE menteri, atau bahkan draft RUU! Bekerja di balik layar itu mudah, selama kita tutup mata akan “keadilan” dalam penghasilan maupun penghargaan non materi lainnya.

berikutnya, saya harus jadi lebih baik lagi dari hari ini. Sumbangsih saya harus lebih baik lagi. Pengabdian ini harus terus saya gali, dan gali, dan gali. Tidak pernah cukup baik, instansi pemerintahan ini. Masih banyak yang bisa kita luruskan, tanpa perlu revolusi.

apakah anda melakukan refleksi diri juga? Apakah bedanya anda sekarang dengan anda 1 tahun yang lalu? 1 tahun yang akan datang, akan bertambah apakah?

Nuff the idea, action, guys?

tanggal 3 bulan 7 tahun 1, sudah 7 bulan bekerja sebagai PNS, atau, tepatnya, CPNS.. Yah saya sudah 7 bulan disini, sebagian besar pekerjaan sudah pernah saya lakukan.. semangat mulai kendur.. apa yang harus saya lakukan? memang di bagian saya sendiri sudah mendingan, karena berbagai hal dapat saya lakukan sendiri.. tapi ternyata “saya” saja tidak cukup..

Yah saya berhasil mengkomunikasikan perubahan ke seluruh jajaran anak baru yang bisa saya lakukan, namun mereka juga terbatas gerakannya, karena hanya menjalankan perintah. Sulit sekali bagi saya mensosialisasikan pentingnya perencanaan kegiatan jangka menengah apabila pelaksanaannya saja masih keteteran. Tidak ada yang berpandangan kedepan, jika dalam melaksanakan kegiatan masih bingung masalah jadwal dan mengejar-ngejar realisasi. Yah, awalnya perencanaan kegiatannya juga tidak memiliki dasar yang kuat sih, asal ada kegiatan saja.. repot.. tidak mungkin saya langsung ajak mereka lompat, karena penentuan rencana jangka menengah merupakan sesuatu yang diluar kuasa staff..

jadi yang dikerjakan staff saat ini rata-rata adalah pekerjaan yang salah. kami disuruh ngebut ke jalan yang salah.. tidak mengetahui jalan yang benar, yang penting uang cair. ya,itulah yang kami alami.. dan silakan anda tebak tanggung jawab pimpinan kami, apa yang beliau pikirkan hanya Tuhan yang tau..

Setidaknya hal yang mudah disosialisasikan adalah mengenai value pekerjaan, mengenai bahwa bekerja sebagai PNS tidak sekedar memikirkan menyelesaikan kegiatan yang berdampak pada ekonomi masing-masing, tapi apakah pekerjaan yang kita lakukan sudah sesuai dengan sasaran strategis institusi.

Saya mengumpulkan teman-teman seinstansi yang bisa diajak kerjasama, dan mendiskusikan kelebihan dan kekurangan instansi kita, apakah kewenangannya, apakah kerjaannya, sehingga bisa mendapatkan gambaran tentang apa yang seharusnya kami kerjakan. dari situlah saya belajar mengenai tanggung jawab eselon tetangga. ini penting, karena itulah jati diri instansi kita.. saya harap diskusi seperti ini bisa menjadi bekal untuk mereka ketika suatu hari nanti mereka harus jadi eselon. Bukan hanya sekedar masalah brainstormingnya, andai mereka lupapun, harus tertanam kebiasaan diskusi dan brainstorming tanpa mengambil keputusan sendiri dan terburu-buru. kebiasaan berdiskusi dan mendengar masukan lain adalah langkah awal yang baik. Tidak ada yang salah dari orang bodoh, yang salah adalah yang tidak mengakuinya dan membiarkan kebodohan tersebut…

Jadi saya mencoba melatih pemikiran analitis dan kritis teman-teman saya. tidak banyak yang bisa saya lakukan soal kebijakan,tapi setidaknya saya bisa membawa otak mereka bekerja dan terus tumbuh.. kasihan„ mereka s1 s2 tapi kerjanya tak pernah pake otak.. meski ga tambah pintar, minimal mencegah jadi tumpul. tentu saja semangat kebersamaan juga penting, mengetahui bahwa kita tidak sendiri, bahwa ada banyak yang ingin negara ini lebih baik..

Saya ingin bertemu dengan lebih banyak lagi orang.. Dan bertanya pada mereka..

APa yang bisa anda lakukan?

Apa yang bisa saya lakukan?

Apa yang bisa KITA lakukan?

Saya sedang bermimpi…dan menunggu ada yang mengajak saya bangun dan berdiri.. untuk berlari…

The Legacy of Idiocy..

Bulan 6, tahun 1.. setengah tahun semenjak jadi CPNS.. Luar biasa bagaimana saya berhasil mengkaji kelemahan dan kelebihan institusi saya.. noo saya bukannya mau sok pintar, hanya saja saya merasa tidak dapat mengandalkan bapak-bapak dan ibu-ibu di level manajerial saya.. Semoga saya salah, mari kita lihat dan jabarkan kira-kira kenapa saya rasa mereka bisa begini..

1. Terlena dalam kedamaian membawa kebodohan

awal mula PNS berdiri, saya tidak tahu. menilik proses perpolitikan jaman PKI, saya rasa zaman bung karno dulu masih banyak orang yang mampu berpikir yang menjalankan negara. Kenapa? tentu karena mereka dituntut untuk berpikir! Ide apa yang cocok untuk menjalankan negara agar stabil? bung karno sendiri mendapat tantangan dari ide-ide partai lain yang tidak setuju. silakan anda saksikan sejarah, saya bukan ahlinya. Nah semenjak Suharto, pemerintahan stabil. isu politik tidak lagi menyerang masyarakat. Pembangunan berjalan stabil. Semua aman…saking amannya, ideologi mati. partai-partai tunduk. Semua diam.. diam dan bekerja dalam kebodohan.. itulah mulai masa dimana kita tidak lagi membutuhkan otak dalam pemerintahan.. pemerintahan yang stabil, yang ikut apapun kata sang raja! tentunya proses rekrutmen pun menjadi mati.. tidak lagi perlu otak.. tidak perlu lg belajar, karena apa yang benar adalah apa kata sang juru selamat: Yang Mulia bapak SUHARTO!

2. Proses rekrutmen yang bodoh

tentunya setelah masa-masa damai dan kita tidak lagi perlu otak, jadi rekrutmennya juga tidak perlu-perlu amat orang pintar. Memang sebenarnya PNS itu adalah alat yang digerakkan oleh para elit, jadi ga perlu pinter2 banget, harusnya, secara waktu itu kan demokrasi terpimpin.. tapi ya ini bodohnya kebangetan. Rekrutmen tidak menggunakan merit sistem„tidak, bahkan tidak menggunakan apapun! mereka asal masukin siapa saja, keluarga yang ga punya pekerjaan, dimasukkan. setelah mereka masuk mereka tidak tau akan mengerjakan apa. akhirnya mereka semua jadi sampah dan beban negara yang harus kita pikirkan, bagaimana cara memberdayakannya, secara gak bisa dipecat gituh! banyak mantan preman jadi PNS, yang taunya klo uang makan ga turun, bawa golok ke kantor! 

3. Penyaringan orang baik jadi pejabat

yak! apa kata pepatah itu benar: “yang waras ngalah!” ya iya karena yg waras ngalah ya yang memenangkan kursi pejabat otomatis orang gila semua! orang gila akan menghalalkan segala cara, dan segala cara yang halal itu bisa diterapkan disini! tidak hanya PNS kok yang seperti itu.. Selain itu juga sistem golongan pangkat dan senioritas, juga pendidikan. ga mungkin kan orang pendidikan tinggi dan masa kerja lama masih aja jadi staff, meski ijasahnya beli+kerjaannya cuma ngiter-ngiter pasar tanah abang? Kami tidak mau menjudge, tapi cobalah anda ases sendiri atasan anda„ kami sudah melakukannya, dan„ well„ speechless.. Ah, yang lebih buruk lagi adalah tentunya orang pinter+baek hati+tidak sombong pasti akan mendapatkan tawaran yang lebih baik dari luar„ untuk apa bertahan di dalam institusi yang tak mampu menghargai prestasi? So much for the nationality.. We can all go to hell!! HALELUYA

4. Anarkisme dalam pencapaian pendapatan!

Gaji PNS tu begitu menyedihkan! kecil banget,., saking kecilnya muncullah sistem honor untuk memboost pendapatan para PNS, dengan mendesain apapun jadi kegiatan, dan mempermudah proses pertanggung jawaban, seolah-olah pemerintah menolak untuk memikirkan soal kesejahteraan, dan membukakan pintu selebar-lebarnya untuk para PNS mencari sendiri Income mereka.. ya, pemerintah tutup mata, mereka ga mau mengotori tangan mereka dengan kebijakan unpopular, dan memilih membuatkan pintu untuk PNS mencari rejeki sendiri. Termasuk tentunya pembiaran untuk melakukan korupsi. Dosanya tanggung sendiri gitu.. Yaa orang baik dan jujur mana betah di lingkungan seperti itu.. bukan hanya itu, celah itupun dimanfaatkan oleh berbagai pihak, misalny DPR yang meminta bagian dalam proyek2 pemerintah„ atau berbagai jenis pungli, tilang,STNK,Duit masuk PNS, pembuatan KTP, yah semua deh.. mengerikan ya? ah ngga juga, asal anda tau cara memanfaatkannya :D

5. Dekonsentrasi dalam pemikiran

Yak, gaji PNS begitu mini, anda harus„emm„bukan,bukan berbuat kriminal, tapi harus kreatif dalam mencari pendapatan tambahan.. Mencari pendapatan itu tidak mudah lho! apalagi anda harus melakukannya sambil membuat kebijakan untuk masyarakat„ mana cukup waktunya untuk melakukan keduanya! yaa, sebagai manusia biasa, tentunya PNS memilih untuk memikirkan keluarganya duluan kaan, baru mikirin kerjaannya? bener ga? bener lah! anda yang bilang ngga, pasti belum menikah semua! anda akan tau ketika anda menghadapinya sendiri.. yaa yang ga korup pun pasti nyari obyekan! bukan di kantor jelas! apalagi klo di kantor ga ada kerjaan!

6. Anda dapat apa yang anda bayar

Gaji PNS begitu kecil! (isu gaji lagi..ckckck) mana mau ada orang yang kerja dengan gaji mini dan kesulitan untuk mencari penghasilan tambahan?? orang yang hebat akan dihargai di tempat lain kok. yaa bukannya mau menghina PNS yang ada sekarang yah, tapi yakinlah, banyak yg lbh pintar memilih mencari kerja di tempat lain. kalau anda tiba2 ditawarin kerja di tempat dengan gaji 5x lipat sekarang, mau ngga? ya maaf-maaf, anggeplah kerjanya ga beda jauh kerasnya :D bukan hanya gaji lho, tapi juga soal aktualisasi diri. tidak ada orang yang mau jadi sampah, kan?

7. Pagu = penghasilan

Pagu K/L atau daerah itu jadi penghasilan PNS! ya karena sistem honor dan pertanggung jawaban yang asalnya dari APBN/D, jadinya banyak jalan untuk mengubah APBN/D tersebut menjadi penghasilan tambahan.. makanya jadi rebutan pagu, rebutan proyek, tanpa peduli konsentrasi kebijakan ada dimana.. Tentu ada rasa iba ke satker yang uangnya dikit, karena pagu = pendapatan.. Gaji? apaan tuh gaji? gaji mah cuma cukup buat ngotorin gigi doang!

8. Tidak ada pengembangan anak baru!

anak baru dilatih sampah ya jadinya sampah juga! hopefully not sih :D yah anda coba liat ada ngga proses pengembangan anak baru.. kalo ngga ada, coba lihat atasan anda„ kalo ababil„ yaa andelin diri sendiri aja.. hehe yang ini kayaknya ga perlu dijabarin dah banyak yang tau

Waduh apa lagi ya.. banyak sih„ tapi intinya itu„ coba anda cari sendiri dan bantu saya menambahkan.. Oh tidak, saya tidak mencoba untuk menghina instansi sendiri, tapi dengan mencoba mendeteksi kelemahan instansi sendiri, kita akan memahami dimana letak penyakitnya, dan obat apa yang kira-kira bisa kita gunakan untuk menyelesaikan masalah yang ada! Secara general itulah penyakit-penyakit yang saya rasa menjangkit PNS kita.. tentunya secara spesifik tiap instansi pasti beda-beda.. nah setelah tau penyakitnya apa, pertanyaan berikutnya adalah, sejauh mana yang bisa anda lakukan untuk merubahnya?

9. Pinter goblog Pendapatan Sama!

PNS itu tidak punya sistem penilaian kinerja..kenapa? ya kinerjanya aja ga jelas! Tentu saja honor dan pendapatan lainnya tidak jelas bagaimana memberikannya.. yang penting semua kebagian, karena uang-uang itu hanya untuk rasa kemanusiaan, nambah pendapatan saja, tidak ada urusannya sama pekerjaan. Tentunya tanpa nilai lebih untuk apa bekerja dengan baik, benar?

Apa tujuan hidup anda? kaya? hidup lama? numpang lewat di dunia?

atau anda ingin meninggalkan sesuatu untuk dunia? untuk masyarakat? untuk calon manusia yang akan menghuni dunia ini yang kelak anda tinggalkan, dimana anda bisa meninggalkannya kapan saja?

Value itu berbeda pada setiap manusia.. cobalah cari, temukan dan jalankan! Nanti akan saya post apa yang telah saya lakukan„ mudah-mudahan berguna.. tentu saya juga berharap anda sharing temuan anda.. Semangat yah! kalo bukan kita yang memperbaiki, siapa lagi? Alien? Tuhan?

What to do?

Apa yang harus dilakukan? Tanggal 6 bulan 4, tahun 1.saya cpns, sudah 4 bulan bekerja,sudah 2 bulan berpikir apa yang harus dilakukan? Hari-hari saya berkutat dengan pekerjaan-pekerjaan yang permasalahannya sama; organisasi. Ah ya, soal pemahaman substansi juga,tapi tampaknya selama kami yang pelaksana memahami,bisa mengakomodir keinginan atasan,pekerjaan akan beres(?yah setidaknya di mata bos) kok.. Namun yaa,pekerjaan yang (dianggap) selesai itu hanya penyelesaian jangka pendek.sangat amat pendek,dengan tidak memerhatikan efek berantai pekerjaan tersebut..

Saya,cpns,tidak lagi berharap pada biang kanker itu.yang penting bagaimana saya memastikan seluruh rekrutan baru yang masa kerjanya masih panjang ini,tidak ketularan penyakit itu..

Mustahil menilik keseluruhan dari pegawai baru di K/L saya.ada bejibuunn! Setidaknya yang seyunit deh.minimal semua unit yang saya kenal orangnya,dan sering crossmeet ketika harus menyelesaikan pekerjaan tertentu.. Hmm.. Responnya cukup baik„ setidaknya kami sepikiran.oh ya,ketika kita berbincang, saya tanyakan hal ini ke mereka:
1.Tahukah kamu fungsi dan strategi unit kerjamu?
2.Ow tau? Apa sih? Saya penasaran!.tau darimana?
3.(Kalo ga tau) wah ko ga tau?emg ga dikasi tau ama bosmu?selama ini ngerjain apa?
yah intinya menggali sejauh mana yg mereka pelajari dari instansi masing2,seandal apakah atasan mereka masing2,dan seberapa besar antusias mereka terhadap pekerjaan.
Nah berikutnya,biasanya mereka mulai curhat tentang instansinya.penting utk mengetahui seberapa besar keinginan mereka dan hambatan2 mereka utk perform..dan berkembang….
Pertanyaan mengenai tupoksi,kerjaan,Visi,misi dan strategi amat penting,kenapa? Karena itulah tujuan sebuah organisasi didirikan.kalo itu aja ga tau/ga punya,untuk apa suatu organisasi didirikan? Jangan2 kalo PNS bubar,malah keadaan sosial negara dan masyarakat lebih baik daripada ada PNS?
Jika tujuannya saja tidak tau,maka arah perjalanan kita akan mubadzir,muter-muter,atau malah ke jurang? Masalahnya, perjalanan kita dibiayai oleh negara,dan yang menumpang dalam kendaraan yang kita jalankan,adalah masyarakat.kita ga tau arah,negara tenggelam…

Ok,setelah tau tupoksi dan strategi,terus gimana? Tentu harus dikaji,dengan tupoksi (kewenangan) seperti itu,kegiatan seperti apa yang harus kita desain untuk mengakomodir strategi utk mencapai visi misi? Itu akan terjawab,tergantung bagaimana cara berpikir kita.coba bandingkan apa yang anda pikirkan,dengan apa yang sedang dilakukan tahun itu.apakah kira-kira sudah sesuai?

Kerangka berpikir seperti itulah yang harus dibangun sbg langkah awal,untuk menjadi seorang strategis, untuk menjadi pemimpin. Pertama bagaimana cara mengerjakan sesuatu,utk tahap yg lebih tinggi: kenapa kita perlu mengerjakan hal itu? Jika anda punya mentor/atasan yang bisa mengajarkan,peganglah! Manfaatkan hal itu! Karena tidak semua anak baru seberuntung itu..

Oke,langkah awal sudah,rekan2 senasib sudah dapet. Selanjutnya bagaimana? Saya menjadi bersemangat! Langkah awal sudah terbayang! Investasi!

Working…working…

Tanggal 1 bulan 2 tahun 1 sesudah PNS, sudah sebulan lamanya saya bekerja sebagai (C)PNS, saya bingung.sungguh bingung. Nampaknya PNS di tempat saya bekerja begitu serabutan,pekerjaan yg datang,dikerjakan ramai2,tanpa ada kejelasan pembagian tanggung jawab ataupun kompetensi orang yang disuruh. Saya didisposisikan tugas menyusun renstra unit eselon dua di tempat saya? Sendiri? Hey,renstra itu kiblat unit eselon dua! Masa saya susun sendirian? Direkturnya ngapain? Dicekpun tidak lho pekerjaan saya,dibimbingpun tidak.. Itu baru saya,belum orang2 lain yang disuruh hal lain2,seperti ngangkut2 barang (selama sebulan disuruh ngangkut barang doang) utk rekan saya,seorang sarjana hukum..masalahnya,banyak pekerjaan yang (menurut saya) perlu diselesaikan,tp nampaknya hal itu tidak masuk perhatian pimpinan.lha ga diselesaikan juga tidak ngefek apa-apa koq! Uang tetap mengalir!

Judgement ini saya dapatkan setelah saya membaca-baca tupoksi unit kerja tempat saya berupa produk undang-undang,juga rencana strategis sebelumnya unit kerja saya..setelah saya mengetahui bahwa POK adalah kegiatan selama setahun,baru saya cocokan dengan tupoksi dan renstra.hasilnya:ketiganya tidak nyambung sama sekali padahal kalau mau dirunut dari kaki-kakinya,tempat saya kan menopang satu dari banyak strategi K/L kami!!kalau timpang,mana bisa sinergi dengan unit lain dalam satu K/L? Apalagi satu negara?? Bos kami hanya peduli bila itu soal realisasi, pengadaan,dan SPPD luar negeri.concern terhadap strategi sedikit sekali…

(Salah satu) masalah PNS mungkin justru dasar-dasar organisasi. Tidak ada kejelasan dan persamaan persepsi soal visi misi, hierarki organisasi dan tata cara organisasi,termasuk deteksi permasalahan,penyelesaian masalah,dan juga evaluasi dan tindak lanjut. Wajar kalau muncul kebijakan-kebijakan yang tidak tepat sasaran. Sebagian besar pejabat di kantor saya bahkan tidak mampu memanage unit kerja masing-masing,apalagi membuat kebijakan yg tepat sasaran untuk negara??
Begitulah bila mencapai puncak tidak dgn perjuangan dan kompetensi.yang dipertaruhkan adalah negara ini,270jt rakyat dipertaruhkan dlm permainan jabat menjabat ini.kasian kalian semua.

Bagi kalian yang memiliki ilmu-ilmu manajemen dan suka tantangan,PNS bisa dicoba.menantang,dan hasil kerja kalian itu membantu banget negara ini lho. Atau bisa juga tetap nyinyirin PNS.tidak masalah.banyak cara menolong negeri ini kok.

Terlepas dari semua itu,yang saya khawatirkan adalah pengkaderan.orang-orang yang menjabat ini tidak mungkin lagi dirubah, biarkan aja mereka membodoh dan pensiun.atau mati,saya tidak peduli..(Konsider efek kelakuan mereka terhadap 270juta orang,saya rasa saya tidak terlalu jahat). Tapii bagaimana dengan saya dan teman-teman saya yang masih baru? Kami diplot untuk menggantikan mereka nanti..tapi tidak ada saama sekali hal yang diajarkan,dilatih. Pejabat-pejabat itu bahkan mungkin tidak tau kompetensi seperti apa yg diperlukan..apalagi yg harrus diajarkan?? Menyedihkan..apakah saya dan teman-teman akan berakhir seperti pejabat-pejabat itu? Bodoh?

Tidak bisa..setiap mau berbuat sesuatu, 270juta orang selalu terngiang di pikiran saya.tidak bisa seperti ini terus.kami,PNS-PNS baru,harus berbuat sesuatu…

The beginning

Hari sebagai PNS dimulai.anggaplah hari itu tanggal satu bulan satu tahun satu pasca PNS (PP). Ya,saya membuat tanggalan baru utk menandakan “kebangkitan saya”,baik sebagai manusia, maupun sebagai komunitas bernama pegawai negeri sipil.
Hari itu setelah berbagai pemberkasan akhirnya saya mulai bekerja sebagai PNS. Jujur saya tidak pernah mendengar soal PNS sebelumnya.yang saya tau,semua orang mendukung saya masuk PNS,krn katanya enak dan aman.yah saya dulupun belum begitu memikirkan soal tujuan hidup atau hal-hal rumit lainnya.saya hanya ingin hidup tenang,denga pekerjaan yg nyaman,lalu mati tanpa beban.
Tampaknya pikiran saya terlalu muluk. Begitu saya masuk PNS,saya melihat sebuah ketidak beresan.yah,semua sudah tau buruknya organisasi PNS.mereka sama sekali buta manajemen.tidak mengerti prinsip sebuah organisasi,apalagi organisasi yang mengurus kepentingan negara,yg seyogyanya memiliki visi,misi dan strategi yang pro kenegaraan di dalamnya.
Negara adalah sebuah kapal besar,membawa penumpang bernama “rakyat”,dengan kru bernama “pemerintah” dan kapten bernama “presiden”.apapun keputusan si kapten dan kru kapal,mereka membawa serta seluruh penumpang tersebut. Nah kru-kru ini rupanya tidak mendapat kejelasan mengenai arah perjalanan dari si kapten. Pemahaman dan Penerjemahan kebijakan yang buruk serta sarat kepentingan membutakan para kru ini.masalahnya,mereka membawa serta jutaan penumpang kapal bernama Indonesia ini. Jika anda PNS,sadarkah anda,setiap hal sekecil apapun,(misal aja bikin LAKIP) yang anda lakukan dan tidak anda lakukan,anda membawa serta jutaan penumpang tersebut?tumbuhkan dulu kesadaran ini,maka kompetensi yang selanjutnya terbangun dalam diri anda,adalah aset berharga negara,aset berharga bangsa ini.

Langkah pertama menjadi pahlawan,baik pahlawan jaman dulu(perang bedil),maupun pahlawan jaman sekarang (perang sosial,ekonomi,politik) adalah menimbulkan kesadaran bahwa anda memperjuangkan kepentingan negara dan rakyatnya.