tanggal 15 bulan 2 tahun 1
Hari dimana kami berjanji untuk berkumpul. Ya, kami, saya dan teman-teman sesumpah PNS saya… he he he bersumpah bersama demi bangsa dan negara, jadi inget novel SAM KOK dimana Liu Bei, Guan Yu dan Zhang Fei, tiga jenderal ternama di kisah dimaksud, bersumpah bersaudara mewujudkan kedamaian di China.
Baru dua hari sejak acara (yang seharusnya) penting tersebut, nampaknya beberapa dari kami sudah kembali kebusiness as usual,sumpah kek,bukan sumpah kek, bukan urusan. benar memang, efeknya ke beberapa orang apabila kurang diintegralkan, akan seperti itu. sumpah saya bersama teman seangkatan waktu kuliah saja lebih kuat daripada ini efeknya.
Ada banyak sekali yang berkumpul saat itu, kami karaokean, makan malam, dan diakhiri dengan ngopi-ngopi cantik di suatu gerai di malam itu. saking banyaknya kami, seolah-olah gerai tersebut kami kuasai. Yah, jadi inget masa-masa masih sekolah dahulu.
Anyway, kami hanya menghabiskan sesaat untuk membicarakan soal sumpah kemarin. Nampaknya topik soal sumpah sudah tidak seseksi itu lagi. Namun sayapun tidak ingin terlalu berpanjang lebar membicarakan sumpah. Yang terpenting adalah aksi riil.. Itu yang agak susah diwujudkan.
Uniknya meskipun jumlah kami cukup banyak, namun pembicaraan berjalan dengan mengalir, tidak ada yang mendominasi pembicaraan, semua mendapat kesempatan yang sama dalam berbicara dan menuangkan gagasan-gagasan yang kaya, yang belum tentu dapat dituangkan di kalangan masyarakat pada umumnya. Menarik. Diawali dengan sumpah, tupoksi masing-masing, lingkungan kerja, dan ujung-ujungnya ke idiologi.
Ideologi berseliweran diantara kami. ada yang setuju demokrasi, ada yang komunis, ada yang khilafah. Ada yang mengamini PJ-palsu atas nama kinerja, ada yang mengharamkan seharam-haramnya. Ada yang menyetujui pengadaan terpusat dengan ULP dan LPSE, ada yang tidak. wah bermacam-macam idenya. Kaya! Kami kaya! tentu saja kekayaan ini harus di manage dengan baik.
Ngomong-ngomong soal kekayaan, nampaknya kekayaan ini sebenarnya ada disini, di Indonesia, tidak hanya ada di meja di sebuah gerai kopi di malam itu. Kami mungkin bisa dibilang merepresentasikan gagasan sebagian besar lain manusia di Indonesia ini, dari berbagai lapisan. Bagaimana yah cara mengelola kekayaan ini? ini baru dari segi idiologi. Selagi saya berpikir kesana kemari, tiba-tiba teman sayanyeletuk.
ya udah sih, kalo beginian mah diomong terus ngga akan ada abisnya. Elu sama prinsip lu, gue sama prinsip gue. yang penting adalah apa yang kita junjung tinggi. kita semua punya boss, kita semua punya koordinator. Kita ikutin mau dia, dengan tetap menghormati dan menghargai kepentingan kalian. Yang terpenting adalah, kita semua menyepakati sebuah kepentingan bersama. Itu yang namanya kepentingan nasional. Perbedaan kita marilah kita gunakan untuk saling mengisi. Ini bagus kok. Mari senantiasa berdoa, bekerja dan terus mengingatkan pimpinan kita untuk membela kepentingan nasional tersebut. Yah minimal,kita tetap bertahan pada keyakinan akan kepentingan nasional, sampai kitalah yang jadi koordinator tersebut. Sepakat friends?
dan kita semua bersepakat. Tidak ada yang kaget dengan kata-kata teman kami itu. Kami semua amat paham dan kata-kata seperti itu bukanlah,bagi kami, sesuatu yang sungguh luar biasa. kamipun bisa menelurkan kata-kata seperti itu. Namun tidak perlu ada pahlawan di benak kami, tidak perlu ada jaagoan yang tampil didepan. siapapun,sama saja. SIapapun yang terdengar pintar, yang penting adalah terakomodirnya kepentingan nasional. Terlalu banyak perbedaan. ada yang suka suharto,ada yang suka otonomi,ada yang suka gus dur, ada yang suka SBY. Namun faktanya satu: kami bekerja bersama-sama. tidak ada gunanya terus diributkan.
Mudah mungkin, karena kami kelompok kecil. Bagaimana dengan kalian, teman-teman? kepentingan nasional kadang mengetes kepentingan pribadi kita loh. Bahkan kamipun yang berbincang seperti itu, belum tentu sanggup bertahan.
Melihat Indonesia yang carut marut politiknya ini, mungkin sudah saatnya kita bertanya: apakah kepentingan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia?
Saya juga tidak tau. Tapi ketahuilah satu hal: Menurut prinsip Balance Score Card, gear yang kecil-kecil apabila dapat berputar sesuai tugasnya masing-masing, akan menggerakkan sebuah mesin yang besar.